TahunQQ Situs Hoki - Jam sudah menunjukan pukul 22.30 namun aku belum juga bisa tidur, entah mengapa ada sesuatu pertanyaan yang mengganjal dalam fikiranku. Sebanarnya sekilas pertanyaanya sederhana, namun pertanyaan ini terus terulang dalam setiap dekade kehidupanku, dan kali ini pertanyaan itu muncul lagi. Apa itu bahagia ? Akupun duduk-duduk di balkon kamarku untuk merenungkan kembali pertanyaan ini.


“Mas lagi ngapain duduk di luar malam-malam begini ?” Tanya istriku datang menghampiri.
“Ah, ngadem saja”
“ngadem?” bukanya di dalam juga sudah dingin?”


Aku tersenyum kecil kepada istriku


“anak kita sudah tidur?”
“sudah dari tadi mas”


Aku membalasnya dengan senyum kembali.


“Bisakah kita ngobrol-ngobrol hanya berdua malam ini ?” tambahku


Istriku hanya melihatku, lalu dia pergi meninggalkanku tanpa berkata apapun. Namun aku tahu dia sedang pergi kemana. Dan benar saja, beberapa menit kemudian dia datang kembali sambil membawa dua gelas susu coklat hangat kesukaanku. Dia memang istri yang pengertianSetiap dia melihat aku agak gelisah, pasti dia akan membikinkan aku segelas susu coklat hangat. Aku bersyukur bisa bersama dia.


“ada masalah mas?” Tanyanya kemudian setelah meletakan gelas di meja kecil yang ada di sampingku. Lalu duduk bersama di kursi panjang balkon kami.

“Tidak ada, Cuma aku ingin menikmati malam ini, aku rasa , akhir-akhir ini kita jarang ngobrol hanya berdua saja”
Ya aku fikir memang demikian, dulu sebelum si kecilku ada, kita biasa duduk-duduk di kursi panjang balkon ini setiap akhir pakan, atau setidaknya kita ngobrolin apapun itu sebelum tidur. Namun hal itu menjadi jarang karena dia sibuk mengurusi anak kita, dan sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkanya, namun kalau malam ini memang ada kesempatan untuk berdua saja, kenapa tidak?


Malam ini Susana di komplek timpat tinggal kami sudah lumayan sepi, langit juga tampak mendung, bahkan sesekali aku rasa gerimis-gerimis kecil mengenai lenganku. Istriku bersandar di pundaku, dan untuk beberapa lama kita hanya saling diam.
“Apa kamu bahagia hidup denganku Dek?” tanyaku kemudia di tengah sepi.


Dia bangun dari sandaranya dan kemudian menatapku


“Kok masnya nanya begitu?” dia balik bertanya dengan ekspresi heran.
“ha,ha,ha apa ada yang salah dengan pertanyaanku ? kan wajar saja to aku bertanya, kalau aku sih bahagia hidup bareng sampean dek” ujarku sambil menarik tubuhnya untuk bersandar di pundaku lagi.

“Ya tentu bahagia lah mas”
“mmm …. “ jawabku setuju, karena aku rasa memang demikian, terlebih setelah hadirnya si kecil, hidup menjadi berwarna saja menurutku.


Kitapun terdiam kembali untuk beberpa saat, akupun mengambil gelas susu coklat yang ada di sampingku, aku minum dua tegukan lalu aku letakan lagi.

“Menurutmu apa sih bahagia itu dek?” tanyaku kemudian.
“Bahagia ?” ujarnya sembali berfikir “bahagia menurutku sebuah keadaan ketika kita merasa senang , tenang,cukup dengan keadaan kita, apapun itu keadaanya”
“Bersyukur maksudmu?” tanyaku

“Ya itu maksutnya mas, ketika kita bisa mensyukuri apapun yang kita terima” imbuhnya.
“Aku rasa demikian, pernah denger pepatah ini juga gak ?, bahwa bukan kebahagiaanlah yang membuat kita bersyukur , namun karena kita bersyukurlah yang membuat kebahagiaan itu ada, bagaimana menurutmu pepatah ini dek?”

“aku setuju mas” jawabnya.
“Jadi kesimpulanya cara bahagia itu adalah cukup dengan bersyukur ya ?.” Tambahku menguatkan.
“iya mas, contohnya ni aku bersyukur, sudah di pertemukan dengan mas , diberi anak yang lucu dan cerdas. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, aku merasa bahagia banget mas”
“Aku juga bersyukur dek, Alhamdulillah” imbuhku lagi sambil ku pegang erat tanganya.
Malam semakin dingin, gerimis kecil semakin rapat turun ke bumi.


“Dek”
“iya mas”
“bagaimana kalau aku pergi duluan”
“Pergi? Pergi kemana?”
“ya meninggal dunia maksutnya”
“Hust, gak boleh bertanya seperti itu mas” jawabnya sambil memukul pahaku.
“ha,ha,ha Ya kan wajar, setiap orang pasti akan meninggal, Cuma kita saja gak tau waktunya kapan, kalau seadainya saja, aku meninggal duluan, kamu masih tetap bahagia kan?”
“ah mas, jangan bercanda seperti itulah gak lucu” jawabnya sambil merapatkan kedua tanganya di lenganku. Dan aku rasa lebih dari itu, matanya mulai sembab.
Aku merasa aku salah bercanda, namun aku tahu jawabanya dari pertanyaanku tadi, pasti dia takut kehilangan.

“Maaf dek, Cuma bercanda kok, gitu aja nangis ha,ha,ha kalau aku juga pasti sedih kalau kehilanganmu dek”
Istriku tidak menjawab, dia semakin erat memeluk lenganku. Kita kembali terdiam lagi.
“Maaf mas kalau aku cengeng” ujarnya kemudian.
aku hanya diam, hanya aku usap punggungnya, yang berarti ya aku faham. Lalu dia melanjutkan ucapanya.

“akupun sadar, bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini”
“iya dek, kita semua milik Allah kan? bahkan kita bertemu ini saja juga karena Allah. Jadi kalau diantara kita ada yang pergi duluan, ya memang karena yang Maha Memiliki sudah memanggil.”
“iya mas aku tahu, mungkin aku belum siap saja kalau itu benar-benar terjadi”
“ha,ha,ha kan tadi Cuma bercanda, seumpama saja”


Istriku hanya terdiam lagi dia, mengusap pipinya yang basah oleh air matanya.
“Mas”
“Iya dek”
“Bagaimana kalau akhir pekan ini kita ke panti asuhan, sudah lama kita tidak ke panti asuhan”
“Boleh, tumben? kamu pasti sudah rindu anak-anak di sana ya ?”
Dia tidak menjawab hanya tersenyum kecil.
“aku teringat sebuah pepatah lagi tentang kebahagiaan mas”
“apa itu?”
“Hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita terima, namun tentang seberapa banyak yang kita berikan kepada orang lain. Bagaimanapun keadaan kita, akan menjadi lebih bahagia kalau kita selalu memberi.”

“Aku juga setuju dek, ya betul, bagiku juga , kabahagiaan itu juga bukan di dunia saja kan, tapi juga bahagia di akhirat”
“iya mas, aku selalu berdoa untuk itu, melanjutkan yang tadi, kalau memang kita harus berpisah di dunia karena kematian, aku selalu berdoa bahwa Allah akan mempertemukan kita di Surga-Nya, itulah sebabnya aku gunakan rejeki dari penghasilanmu untuk anak-anak yatim di panti asuhan mas”
Aku terharu mendengarnya
“semoga dek, semoga , Semoga Allah menerima amal baik keluarga kita, dan menyatukan kita kembali di Surga”
Aku peluk erat isriku, di tengah hujan yang semakin deras malam ini. Aku bersyukur dipertemukan denganmu, wanita yang berhati mulia. Terima kasih, terima kasih.
Malam semakin larut, kita masih terus duduk berdua di balkon kamar kami, meski dingin semakin mengganggu dan percikan air hujan yang sepertinya menyuruh kami untuk segera masuk kedalam kamar kembali.

“ma , mama dimana ?” tiba-tiba suara anaku memanggil istriku dari dalam.
“eh kakak terbangun “ ujarku kepada istriku.
Kitapun buru-buru beranjak dari duduk kami untuk masuk ke kamar.
“iya kak, ini mama di balkon luar”
“loh kok mama dan papa kelual, aku ditinggal sendilian” protes anaku sembari matanya yang masih sedikit tertutup.
“bentar kok tadi, lagi mengusir tikus” jawabku
“Tikus? Mana ada tikus di lumah kita?” Tanya anaku lagi.
“Kayaknya tikus nyasar sih, makanya tadi mama sama papa suruh dia keluar kamar” jawabku membela
“oh, nanti tikusnya gak balik lagi kan?”
“Endak, maka dari itu kita harus segera tidur lagi, iya kan ma?”
“iya”



Kitapun bersiap untuk istirahat, anaku berada diantara kami berdua, kulihat anaku sudah memejamkan matanya kembali, kucium kening anaku, “mimpi indah ya sayang”. Lalu kulihat , istriku masih belum memejamkan matanya, ku pegang tanganya,
“Ayo segera tidur, biar besok tidak bangun kesiangan”
Istriku hanya tersenyum
“Terima kasih mas”
Aku jawab dengan senyumku juga
“aku yang seharusnya berterima kasih padamu dek



Begitulah ceritanya malam itu


Pada suatu ketika,

Antara aku kamu dan dia